Home » Produk » BERKO DI JEMBRANA

berko di jembrana 1

BERKO DI JEMBRANA

Rp -

Penulis : Ida Bagus Sugianto dan I Made Dharma Suteja

ISBN : 978-602-356-480-4

Cover : Soft Cover

Halaman : 99

Berat : 150

Ukuran : 15,5cm X 23cm

Berko merupakan sebuah kesenian tradisional yang lahir tahun 1925 diprakarsai oleh Pan Milder seorang petani di Jembrana. Pemberian nama Berko berasal dari kata bero-bero, neko. Inspirasi Berko didapat kala Pan Milder sedang berada di lingkungan persawahan dia melihat banyak warga yang bekerja di sawah. Mulanya Pan Miler membuat satu buah gamelan berbahan bambu berbentuk grantangan dengan titi nada atau laras durma (pelog). Niat Pan Miler menciptakan gamelan ini untuk memberikan hiburan kepada warga yang sedang bekerja di sawah. Disebabkan oleh merdunya alunan suara yang ditimbulkan gamelan itu sontak mendorong warga yang mendengarnya antusias memberikan tanggapan. Mereka bersama-sama memberikan gagasan-gagasan untuk menciptakan sebuah karya seni yang bisa digunakan dalam berbagai keperluan. Kesenian Berko ini zaman dahulu ditabuh saat ada upacara keagamaan, ketika ada upacara di puri sebagai hiburan bagi raja atau menjadi suguhan bagi para tamu istana atau puri.

BAGIKAN

Berko merupakan sebuah kesenian tradisional yang lahir tahun 1925 diprakarsai oleh Pan Milder seorang petani di Jembrana. Pemberian nama Berko berasal dari kata bero-bero, neko. Inspirasi Berko didapat kala Pan Milder sedang berada di lingkungan persawahan dia melihat banyak warga yang bekerja di sawah. Mulanya Pan Miler membuat satu buah gamelan berbahan bambu berbentuk grantangan dengan titi nada atau laras durma (pelog). Niat Pan Miler menciptakan gamelan ini untuk memberikan hiburan kepada warga yang sedang bekerja di sawah. Disebabkan oleh merdunya alunan suara yang ditimbulkan gamelan itu sontak mendorong warga yang mendengarnya antusias memberikan tanggapan. Mereka bersama-sama memberikan gagasan-gagasan untuk menciptakan sebuah karya seni yang bisa digunakan dalam berbagai keperluan. Kesenian Berko ini zaman dahulu ditabuh saat ada upacara keagamaan, ketika ada upacara di puri sebagai hiburan bagi raja atau menjadi suguhan bagi para tamu istana atau puri.

PRODUK LAINNYA