Uncategorized

Home » Uncategorized » BONGPAY SUMATERA BARAT: Narasi Batu Nisan, Akulturasi, dan Warisan yang Terancam

BONGPAY SUMATERA BARAT: Narasi Batu Nisan, Akulturasi, dan Warisan yang Terancam

DESKRIPSI

Booklet ini adalah salah satu hasil dari penelitian kami yang
berjudul, “Eksplorasi Situs-situs Bongpay: Menggali Narasi Sejarah
Etnis Tionghoa di Sumatera Barat”. Riset tersebut berangkat dari
analisis awal tim akan belum adanya riset (arkeologis) tentang Bongpay
di wilayah Sumatera Barat. Bongpay atau pemakaman etnis Tionghoa
adalah tinggalan warisan budaya yang penting untuk mengenal etnis
Bongpay Sumatera Barat: Narasi Batu Nisan, Akulturasi, dan Warisan Yang Terancam
Tionghoa. Situs-situs bongpay ini selain memiliki potensi sebagai
sumber sejarah juga bagi orang-orang Tionghoa sendiri memiliki fungsi
penting sebagai penjaga identitas mereka.
Kegiatan turun lapangan kemudian menjadi arena bagi tim
peneliti untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang Bongpay yang ada
di lokus penelitian. Selain eksplorasi arkeologis, tim peneliti juga
melakukan pengumpulan data secara kualitatif dengan melakukan
observasi langsung dan wawancara, mulai dari tokoh-tokoh dari
Himpunan Bersatu Teguh (HBT), Himpunan Tjinta Teman (HTT),
Tionghoa Muslim sampai masyarakat lokal Minang. Penelusuran data
juga dilakukan dengan pemetaan areal pemakaman menggunakan
drone dengan kolaborator dari ISI Padang Panjang. Selain itu,
penelusuran data juga dilakukan dengan mencari sumber tertulis di
lembaga arsip setempat. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan narasi
sejarah etnis Tionghoa di Sumatera Barat secara komprehensif.
Kegiatan turun lapangan dilakukan selama 18 hari. Mulai dari
tanggal 10 September sampai tanggal 27 September. Panjangnya
durasi penelitian dikarenakan luasnya lokus dan objek penelitian.
Adapun objek penelitiannya adalah situs-situs pemakaman Tionghoa
(Bongpay) yang ada di Provinsi Sumatera Barat, yaitu di Kota Padang
(di bukit Sentiong, bukit Gado-gado, bukit Cendana, bukit Lantik,
dan Pemakaman Bungus), Padangpanjang (Kampung Jawa dan
bukit Andok), Bukittinggi (Bukit Ambacang), dan Payakumbuh
(Bukit Limbukan). Pemilihan keempat lokasi tersebut salah satunya
mempertimbangkan dari kuantitas orang-orang Tionghoa di wilayah
tersebut. Keempat wilayah tersebut adalah wilayah dengan jumlah
etnis Tionghoa terbesar di Sumatera Barat.

Penulis : Paulina E.H. Nugraheni

Jumlah halaman : V+63

Harga :

ISBN :

Posted in