Home » Produk » Harmoni di Jalur Cepat: Menjaga Identitas dan Kesejahteraan Sleman di Tengah Kehadiran Jalan Tol

WhatsApp Image 2026-10-16 at 15.44.48

Harmoni di Jalur Cepat: Menjaga Identitas dan Kesejahteraan Sleman di Tengah Kehadiran Jalan Tol

Rp

Penulis : Editor: Muhammad Baiquni, Guru Besar Departemen Geografi UGM

ISBN :

Cover : Softcover

Halaman : 316

Berat : 1 kg

Ukuran : 21 x 29,7 cm

Diskripsi Jalan tol memiliki dua sisi yang menunjukkan paradoks, sebagai akses yang menghubungkan kota-kota besar, tetapi memisahkan desa-desa di sekitarnya. Pembangunan jalan tol pada hakikatnya bukan sekadar pembangunan jalan. Ia adalah pembangunan sebuah sistem konektivitas yang dapat mengubah cara orang bergerak, cara ruang dimanfaatkan, cara uang berfungsi dalam kegiatan ekonomi, serta cara suatu wilayah berinteraksi dengan wilayah lainnya. Ketika sebuah jalan tol hadir sebagai sarana penghubung transportasi, sesungguhnya sebuah babak baru dalam perjalanan tranformasi wilayah juga dimulai. Kabupaten Sleman berada di lereng kaki Gunung Merapi dengan tanah yang subur dan mata air yang mengalirkan sungai, berada pada posisi yang sangat strategis dalam dinamika tersebut. Sebagai bagian penting dari kawasan perkotaan Yogyakarta dan sekaligus wilayah yang memiliki keragaman bentang alam, pertanian, permukiman, pariwisata, pendidikan, ekonomi kreatif, serta warisan budaya, Sleman bukanlah ruang kosong yang menunggu untuk dibangun. Sleman adalah ruang hidup yang telah tumbuh melalui sejarah panjang peradaban hasil interaksi manusia dengan lingkungan, kebudayaan, dan sumber daya wilayahnya. Konsep socio-ecological resilience memberikan kerangka penting untuk memahami persoalan ini. Resiliensi bukan sekadar kemampuan kembali kepada kondisi semula setelah mengalami gangguan. Dalam perspektif kontemporer, suatu wilayah juga dinilai dari kemampuannya beradaptasi, berinovasi, dan bahkan melakukan transformasi menuju kondisi yang lebih baik. Kajian regional resilience menunjukkan adanya perbedaan antara bounce back dan bounce forward. Wilayah yang tangguh tidak selalu kembali ke kondisi sebelum mengalami gangguan, tetapi dapat menggunakan perubahan sebagai kesempatan untuk membangun struktur ekonomi, sosial, dan kelembagaan yang lebih adaptif (Pascariu, Gabriela Carmen. 2020). Membaca masa depan dengan kearifan, konsep resiliensi menjadi penting untuk diterjemahkan menjadi mumpuni nan lestari. Sleman tidak perlu sekadar bounce back menuju kondisi lama. Sleman perlu bounce forward—bergerak menuju bentuk pembangunan baru yang lebih adaptif, inklusif, ekologis, dan berakar pada identitas wilayah (Pascariu, Gabriela Carmen. 2020). Sebagaimana kearifan yang terangkai dalam tiga hal berikut “Alon alon waton kelakon, sak kebat klewat, amrih selamat”.

BAGIKAN

Diskripsi

Jalan tol memiliki dua sisi yang menunjukkan paradoks, sebagai akses yang menghubungkan
kota-kota besar, tetapi memisahkan desa-desa di sekitarnya. Pembangunan jalan tol pada
hakikatnya bukan sekadar pembangunan jalan. Ia adalah pembangunan sebuah sistem konektivitas
yang dapat mengubah cara orang bergerak, cara ruang dimanfaatkan, cara uang berfungsi dalam
kegiatan ekonomi, serta cara suatu wilayah berinteraksi dengan wilayah lainnya. Ketika sebuah
jalan tol hadir sebagai sarana penghubung transportasi, sesungguhnya sebuah babak baru dalam
perjalanan tranformasi wilayah juga dimulai.

Kabupaten Sleman berada di lereng kaki Gunung Merapi dengan tanah yang subur dan mata
air yang mengalirkan sungai, berada pada posisi yang sangat strategis dalam dinamika tersebut.
Sebagai bagian penting dari kawasan perkotaan Yogyakarta dan sekaligus wilayah yang memiliki
keragaman bentang alam, pertanian, permukiman, pariwisata, pendidikan, ekonomi kreatif, serta
warisan budaya, Sleman bukanlah ruang kosong yang menunggu untuk dibangun. Sleman adalah
ruang hidup yang telah tumbuh melalui sejarah panjang peradaban hasil interaksi manusia dengan
lingkungan, kebudayaan, dan sumber daya wilayahnya.

Konsep socio-ecological resilience memberikan kerangka penting untuk memahami
persoalan ini. Resiliensi bukan sekadar kemampuan kembali kepada kondisi semula setelah
mengalami gangguan. Dalam perspektif kontemporer, suatu wilayah juga dinilai dari
kemampuannya beradaptasi, berinovasi, dan bahkan melakukan transformasi menuju kondisi
yang lebih baik. Kajian regional resilience menunjukkan adanya perbedaan antara bounce back
dan bounce forward. Wilayah yang tangguh tidak selalu kembali ke kondisi sebelum mengalami
gangguan, tetapi dapat menggunakan perubahan sebagai kesempatan untuk membangun struktur
ekonomi, sosial, dan kelembagaan yang lebih adaptif (Pascariu, Gabriela Carmen. 2020).
Membaca masa depan dengan kearifan, konsep resiliensi menjadi penting untuk
diterjemahkan menjadi mumpuni nan lestari. Sleman tidak perlu sekadar bounce back menuju
kondisi lama. Sleman perlu bounce forward—bergerak menuju bentuk pembangunan baru yang
lebih adaptif, inklusif, ekologis, dan berakar pada identitas wilayah (Pascariu, Gabriela Carmen.
2020). Sebagaimana kearifan yang terangkai dalam tiga hal berikut “Alon alon waton kelakon,
sak kebat klewat, amrih selamat”.